PASAR PEMIKIRAN: Membangun Kader PMII Rayon Dakwah yang Berkualitas & Berintegritas: Evaluasi dan Refleksi
PASAR PEMIKIRAN:
Membangun Kader PMII Rayon Dakwah
yang Berkualitas & Berintegritas: Evaluasi dan Refleksi
Pada era yang penuh dengan dinamika dan tantangan seperti
saat ini, keberadaan kader yang berkualitas secara intelektual, akhlak, dan
perilaku menjadi kunci utama dalam menjaga keberlangsungan dan kesuksesan suatu
organisasi. Demikian pula halnya dengan Persatuan Mahasiswa Islam Indonesia
(PMII) Rayon Dakwah Komisariat Walisongo Purwokerto, yang memiliki peran
strategis dalam membangun kesadaran keislaman dan kepedulian sosial di
lingkungan kampus.
Kehadiran PMII Rayon Dakwah tidak hanya sebagai wadah
kegiatan keagamaan semata, tetapi juga sebagai wadah pembinaan karakter dan
kepemimpinan bagi mahasiswa. Melalui berbagai program dan kegiatan yang
dilaksanakan, PMII berupaya menciptakan kader-kader yang tidak hanya cerdas
secara intelektual, tetapi juga berakhlak mulia dan mampu memberikan kontribusi
positif bagi masyarakat.
Namun, di tengah upaya menjalankan visi dan misinya, PMII
Rayon Dakwah dihadapkan pada berbagai permasalahan yang memerlukan evaluasi,
pemecahan masalah dan refleksi mendalam.
-
Hilangnya
Identitas:
Fenomena hilangnya identitas di
kalangan kader PMII Rayon Dakwah menjadi perhatian serius. Saat ini, terdapat
kecenderungan di mana sebagian kader tidak lagi mengakui dirinya sebagai bagian
integral dari ke-PMIIan. Hal ini menjadi cerminan dari rendahnya rasa memiliki
terhadap organisasi. Bahwa rasa memiliki terhadap organisasi menjadi fondasi
kuat dalam mempertahankan identitas anggota.
Hasil pembahasan fenomena ini
mengungkapkan beberapa faktor yang mungkin menjadi penyebabnya. Pertama,
terjadinya pergeseran arah organisasi yang tidak selaras dengan nilai-nilai
yang diyakini oleh sebagian anggota. Kedua, adanya perbedaan pandangan ideologis
di antara anggota, yang mengakibatkan perpecahan dan ketidaksesuaian. Ketiga,
kurangnya upaya dalam membangun komunikasi dan integrasi antar anggota,
sehingga terjadi kesenjangan.
Untuk mengatasi tantangan ini,
diperlukan langkah-langkah strategis yang terarah. Pertama, perlu dilakukan
kajian mendalam terhadap nilai dasar pergerakan dan Ke- Aswajaan, serta
pengkomunikasiannya kepada seluruh anggota secara jelas dan konsisten. Kedua,
dibutuhkan upaya dalam membangun kesadaran akan pentingnya solidaritas dan
persatuan di antara anggota, dengan memfasilitasi dialog dan diskusi yang
membangun. Ketiga, perlunya pengembangan kegiatan kepemimpinan yang inklusif
dan partisipatif, sehingga setiap anggota merasa memiliki peran yang penting
dalam perkembangan organisasi.
Dari hasil analisis pembahasan
menyatakan bahwa salah satu faktor utama yang menyebabkan adalah pergeseran
fokus organisasi dari aspek keagamaan dan sosial ke ranah politik yang lebih
umum. Untuk mengatasi hal ini, PMII Rayon Dakwah, mengambil langkah-langkah
konkret. Pertama, mereka mengadakan forum diskusi terbuka dengan semua anggota
untuk mendengarkan keluhan, ide, dan harapan mereka terhadap organisasi. Dalam
forum ini, anggota diberi kesempatan untuk berbicara dan merasa didengar,
sehingga menciptakan rasa kepemilikan dan identitas yang lebih kuat.
Kedua, PMII Rayon Dakwah, kembali
mengarahkan fokus kegiatan organisasi pada aspek keagamaan dan sosial yang
lebih relevan dengan minat dan kebutuhan anggota. Acara ini bisa serangkaian
kegiatan seperti bakti sosial, kajian keagamaan, dan program pengembangan diri
yang bertujuan untuk memperkuat identitas ke-PMIIan sebagai agen perubahan yang
berbasis pada Nilai Dasar Pergerakan.
Hasil dari langkah-langkah tersebut
sangat tentunya akan sangat positif apabila mampu di laksakana dengan baik.
Mulai dari Partisipasi anggota dalam kegiatan organisasi meningkat secara
signifikan, dan semangat kebersamaan di antara anggota pun kembali membara.
Anggota merasa lebih terhubung dengan identitas dan tujuan organisasi, serta
lebih termotivasi untuk berkontribusi secara aktif dalam memajukan visi dan
misi.
Melalui pendekatan-pendekatan yang
konkret dan terukur, PMII Rayon Dakwah diharapkan mampu menemukan kembali akar
kepemimpinan dan identitas yang kuat di antara anggotanya. Hal ini menjadi
contoh inspiratif bagi rayon-rayon lain dalam menghadapi tantangan serupa,
bahwa dengan komunikasi yang baik dan fokus yang tepat, identitas organisasi
dapat diperkuat dan kebersamaan dapat dipulihkan.
-
Kurangnya
Kader Ideologis:
Tantangan berikutnya yang perlu
diperhatikan adalah kurangnya kader ideologis di PMII Rayon Dakwah. Kualitas
ideologis kader menjadi sorotan utama, di mana pemahaman yang kurang mendalam
akan ideologi PMII serta kurangnya kesadaran akan tanggung jawab sebagai kader
menjadi hambatan yang perlu segera diatasi.
Dari hasil pembahasan menyatakan
bahwa kurangnya pemahaman ideologi PMII dapat disebabkan oleh berbagai faktor,
antara lain kurangnya edukasi ideologis yang sistematis dan terarah, serta
minimnya kesempatan bagi anggota untuk memperdalam pemahaman mereka melalui
diskusi dan studi kelompok. Selain itu, rendahnya kesadaran akan tanggung jawab
sebagai kader juga dapat disebabkan oleh kurangnya pembinaan kepemimpinan yang
efektif dan kurangnya kesempatan bagi anggota untuk mengaplikasikan pengetahuan
dan keterampilan mereka dalam konteks nyata.
Untuk mengatasi tantangan ini,
diperlukan langkah-langkah konkret dan terencana. Pertama, perlu dilakukan
peningkatan program edukasi ideologis yang menyeluruh dan terstruktur bagi
seluruh anggota. Program ini dapat mencakup kajian-kajian mendalam tentang
nilai-nilai dan prinsip organisasi, serta diskusi-diskusi terbuka untuk
memperdalam pemahaman anggota.
Kedua, pentingnya adanya pendekatan
pembinaan kepemimpinan yang holistik dan inklusif. Selain memberikan pemahaman
ideologis yang kuat, anggota juga perlu diberi kesempatan untuk mengembangkan
keterampilan kepemimpinan mereka melalui berbagai kegiatan praktis seperti
simulasi manajemen acara, pelatihan public speaking, dan proyek-proyek sosial.
Penting untuk diingat bahwa
perjalanan membangun kualitas kader tidaklah mudah, tetapi hasilnya sangatlah
berharga. Dengan kesungguhan, kerja keras, dan komitmen yang kokoh, PMII Rayon
Dakwah akan mampu menghadapi setiap tantangan dan menghasilkan kader-kader yang
tangguh, berkualitas, dan berintegritas tinggi. Semoga setiap langkah yang
diambil membawa dampak yang positif bagi perkembangan dan keberlanjutan.
-
Sistem
Pra Mapaba dan Pasca Mapaba:
Terkait dengan sistem pra mapaba dan
pasca mapaba, terdapat hambatan yang signifikan dalam pembentukan dan
pemeliharaan identitas serta kualitas kader di PMII Rayon Dakwah.
Dari hasil pembahasan menyatakan
bahwa sistem pra mapaba dan pasca mapaba yang belum optimal dapat disebabkan
oleh berbagai faktor, seperti kurangnya perencanaan yang matang, minimnya
sumber daya yang tersedia, dan kurangnya keterlibatan fasilitator dalam proses
follow up. Selain itu, kurangnya evaluasi terhadap efektivitas Follow up
menjadi kendala dalam memastikan kesuksesan dan kualitas .
Untuk mengatasi tantangan ini,
diperlukan pemecahan masalah yang sistematis dan terarah. Pertama, perlu
dilakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem pra mapaba dan pasca mapaba.
Evaluasi ini melibatkan semua pengurus, fasilitator, dan anggota, untuk mengidentifikasi
kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman.
Kedua, PMII Rayon Dakwah dapat
merancang dan melaksanakan kegiatan-kegiatan baik itu Pra MAPABA dan Pasca MAPABA perbaikan yang terukur dan
terencana. Hal ini dapat ini mencakup hal-hal apa saja yang akan kita jual,
peningkatan kualitas materi dan metode follow up, serta peningkatan komunikasi
dan koordinasi antaranggota.
-
Minimnya
kader yang minat Kaderisasi Formal PKD:
Tantangan terkait minimnya minat
untuk mengikuti kaderisasi formal PKD menyoroti rendahnya motivasi dan
keinginan anggota untuk meningkatkan kualitas diri sebagai kader di PMII Rayon
Dakwah.
Hasil pembahasan menunjukkan bahwa
minimnya minat tersebut dapat disebabkan oleh beberapa faktor, seperti
kurangnya pemahaman akan manfaat dan nilai tambah yang diperoleh melalui
kaderisasi formal PKD, ketidakpastian akan tuntutan dan tanggung jawab yang
diemban sebagai kader, serta kurangnya dorongan dan dukungan dari pimpinan dan
sesama anggota.
Untuk mengatasi tantangan ini,
diperlukan pemecahan masalah yang komprehensif dan terarah. Pertama, perlu
dilakukan sosialisasi yang lebih intensif dan terarah mengenai manfaat dan
nilai tambah yang diperoleh melalui kaderisasi formal PKD. PMII Rayon Dakwah
dapat mengadakan sesi informasi dan diskusi terbuka untuk menjelaskan secara
rinci proses dan manfaat kaderisasi formal PKD bagi perkembangan pribadi.
Kedua, pentingnya adanya pendekatan
motivasional dan dukungan yang kuat dari ketua, pengurus, dan kader yang sudah
PKD. PMII Rayon Dakwah dapat mengadakan program pembinaan kepemimpinan yang
bertujuan untuk meningkatkan kepercayaan diri dan motivasi anggota untuk
mengambil langkah lebih lanjut dalam mengembangkan diri sebagai kader melalui
kaderisasi formal PKD.
Penting untuk diingat bahwa perjalanan membangun kualitas
kader PMII Rayon Dakwah adalah sebuah komitmen jangka panjang yang memerlukan
kesungguhan dan kerja keras dari semua pihak terkait. Melalui hasil diskusi,
pemecahan masalah, dan studi kasus, telah terungkap beragam langkah strategis
yang dapat diambil untuk mengatasi tantangan tersebut. Dengan komunikasi yang
jelas, kegiatan yang terencana, serta dorongan dan dukungan yang kuat dari
pimpinan dan sesama anggota, PMII Rayon Dakwah dapat memperkuat identitas,
meningkatkan kualitas kader, dan memperluas dampak positifnya dalam masyarakat.
Dengan demikian, mari kita bersama-sama berkomitmen untuk
terus memperjuangkan dan mengamalkan Nilai Dasar Pergerakan dan Aswaja,
membangun kader-kader yang berkualitas, berintegritas tinggi. Dengan semangat
kebersamaan dan kepedulian yang tulus, PMII Rayon Dakwah akan terus menjadi
garda terdepan dalam mewujudkan perubahan yang lebih baik, baik di lingkungan
kampus maupun dalam masyarakat luas.
Penulis: Sahal Fikri
Tim Redaksi: Syifa Halim
taqwa, intelektual, profesional.
BalasHapusSebuah sumpah dan janji di bawah kitab suci menjadi tidak berarti, jika janji tidak ditepati, dan satu hati akan tersakiti bila orang PMII💙💛 dicintai hanya obral janji tanpa hati
BalasHapus