Sejarah Perjuangan Bangsa
potret bentuk nasionalisme kader rayda |
Rayda PMII Purwokerto - Untuk menjadi sebuah Negara Kesatuan Republik Indonesia, perlu perjuangan dan pengorbanan yang Panjang. Sejarah mencatat ada banyak pejuang bangsa yang telah memberikan seluruh hidupnya demi terbentuknya bangsa ini.
Kerja keras dengan diimbangi semangat juang yang tinggi mampu memberikan efek yang sangat besar terhadap kondisi masyarakat pada waktu itu. Hampir di seluruh wilayah Indonesia memberikan respon dan turut aktif dalam proses proklamasi kemerdekaan Indonesia yaitu Yogyakarta, Surakarta, Semarang, Bandung, Surabaya, Bali, Biak, Kalimantan, Makassar, Palembang, Gorontalo, Sumbawa dan sebagainya.
Banyak peristiwa yang sangat menarik untuk kita pelajari seputar proklamasi kemerdekaan, dan berikut adalah rangkuman dari proses sebelum dan sesudah Kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
A.Peristiwa Menjelang Proklamasi
1.Titik Tolak
Dalam sidang istimewa Teikoku Ginkai pada tgl 7 September 1944 di Tokyo, perdana menteri Kaiso mengumumkan bahwa daerah Hindia-Belanda timur (Indonesia) diperkenankan untuk memproklamasikan kemerdekaannya kelak. Hal ini terjadi karna tentara Jepang semakin terdesak akibat tentang Amerika, ditambah dengan jatuhnya kepulauan Saipan ke tangan Amerika. Pada tanggal 1 Maret 1945 Letnan Jenderal Kuma Kici Harada mengumumkan pembentukan Dokuritsu Junbi Cosakai atau Badan Penyelidik Usaha-
Usaha Panitia Kemerdekaan. Ini merupakan langkah konkret atas janji kaiso.
Pada tanggal 7 agustus 1945, Panglima Tentara Umum Selatan Jenderal Terauchi
meresmikan pembentukan Dokuritsu Junbi Linkai atau Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI). Dan pada saat itu Dokuritsu Junbi Cosakai dinyatakan bubar. Adapun yang terpilih sebagai ketua PPKI adalah IR.Soekarno dan wakilnya yaitu Drs. Moh. Hatta. Hal yang sangat mendorong jepang untuk segera mengambil keputusan penting adalah pada tanggal 6 dan 9 Agustus 1945, pasukan udara sekutu menjatuhkan bom di dua kota besar Jepang yakni Kota Nagasaki dan Hiroshima. Atas peristiwa itu pada tanggal 12 Agustus Jendral Besar Terauci mengundang tokoh pergerakan Indonesia yaitu Ir.Soekarno, Drs. Moh. Hatta, dan dr. Radjiman Wediodiningrat bahwa pada tanggal 24 Agustus 1945 Kemerdekaan Indonesia telah diserahkan kepada PPKI.
2.Peristiwa Rengasdengklok (pro dan kontra)
Rengas dengklok adalah salah satu Kecamatan di Kabupaten Karawang Jawa Barat. Di sinilah para kelompok Revolusioner muda membawa secara paksa Ir.Soekarno dan Drs.Moh.Hatta untuk segera memproklamasikan kemerdekaan. Peristiwa ini di latar belakangi oleh perbedaan pendapat antara golongan tua dan golongan muda dalam pelaksanaan proklamasi
- Golongan Tua
Mereka adalah kelompok yang menghendaki bahwa pelaksanaan proklamasi harus sesuai maklumat jepang dan mereka adalah para anggota ppki yang diwakili oleh soekarno dan hatta.mereka beranggapan bahwa meskipun jepang telah kalah,ada beberapa pertimbangan yaitu kekuatan militer Indonesia yang harus ditingkatkan,karena kembalinya belanda keindonesia dianggap lebih berbahaya dari sekedar tanggal proklamasi.
-Golongan Muda
Golongan Muda yang diwakili para anggota PETA dan Mahasiswa merasa kecewa atas sikap Golongan Tua. Mereka menganggap PPKI adalah bentukan jepang dan atas hal itu golongan muda tidak sepakat, karna kemerdekaan Indonesia adalah hak masyarakat yang seharusnya tidak ada pengaruh apapun bahkan pengaruh dari penjajahan Jepang. Salah satu tokoh yang mendesak agar soekarno dan hatta untuk segera memproklamasikan kemerdekaan adalah sutan syahid.
Dalam rapat yang di selenggarakan di pegangsaan timur Jakarta pada tanggal 15 agustus 1945 golongan muda secara resmi memutuskan bahwa kemerdekaan adalah hak dan masalah masyarakat Indonesia sendiri bukan menggantungkan pihak yang lain. Rapat ini dipimpin oleh Chairul Saleh dan dihadiri oleh,Djohar Nur, Khusnandar, Subadio, Subianto, Margono, Armansyah, dan Wikana.
Keputusan rapat kemudian disampaikan oleh wikanda dan darwis kepada soekarno dan hatta di Pegangsaan Timur No.56 Jakarta. Mereka mendesak dan memaklumatkan bahwa proklamasi harus dilaksanakan pada tanggal 16 Agustus 1945, jika hal itu tidak terjadi pada golongan muda beranggapan bahwa akan terjadi pertumpahan darah. Namun soekarno tetap pada pendiriannya bahwa proklamasi harus tetap dilaksanakan melalui PPKI, dan oleh sebab itu PPKI harus segera melakukan rapat. Pro dan kontra inilah yang akhirnya menjadi puncak peristiwa Rengasdengklok.
3.Suksesi Peristiwa Rengasdengklok
Untuk menjauhkan soekarno dan hatta dari pengaruh jepang sesuai dengan kesepakatan rapat terahir golongan muda pada tanggal 16 Agustus 1945 di asrama baperki, cikini, Jakarta akhirnya mereka membawanya keluar dari kota Jakarta. Golongan muda memilih Shodanco Singgih dalam pengamanan terhadap soekarno hatta. Dan untuk menghindari kecurigaan serta tindakan tentara jepang, guna memuluskan jalan akhirnya proses ini dibantu oleh perlengkapan tentara Peta dan Cudanco Latief Hendraningrat.
Kemudian soekarno dan hatta dibawa ke Rengasdengklok. Kota ini dipilih dengan alasan militer. Ketika anggota peta Daidan Purwakata dan Daidan Jakarta mengadakan Latihan Bersama sehingga menimbulkan hubungan yang baik diantara mereka. Selain itu karna letaknya yang strategis sehingga memudahkan tentara Peta dalam pengawasan terhadap tentara Jepang.
Di Jakarta, dialog antara golongan muda yang di wakili wikana dan golongan tua ahmad subardjo mencapai kata sepakat bahwa proklamasi harus dilaksanakan dijakarta yaitu pada tanggal 17 Agustus 1945. Yusuf Kunto yang menjadi utusan dari golongan muda menuju Rengasdengklok Bersama Ahmad Subardjo untuk menjemput Soekarno dan Hatta. Ahmad Subardjo menjamin bahwa Proklamasi Kemerdekaan akan diumumkan pada tanggal 17 Agustus 1945 selambat-lambatnya jam 12.00. Karna telah memberi jaminan akhirnya Komandan Kompi Pera Rengasdengklok yakni Cudanco Subeno bersedia melepaskan Soekarno dan Hatta untuk Kembali ke Jakarta dalam rangka untuk mempersiapkan kelengkapan Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia.
4.Perumusan Dan Pengesahan Teks Proklamasi
Soekarno dan Hatta telah mengubah jalam pikirannya bahwa kemerdekaan harus segera dikumandangkan setelah peristiwa Rengasdengklok yang melibatkan mereka dengan golongan muda. Soekarno dan Hatta tiba di Jakarta pukul 23.00 kemudian menuju kediamannya masing-masing. Setelah itu barulah mereka menuju kediaman laksamana Meida karna pertemuan Soekarno dengan Mayjen Nishimura tidak membuahkan hasil dalam membahas Proklamasi Kemerdekaan dan Soekarno sadar bahwa berbicara dengan penjajah tidak ada gunanya.
Pertemuan di rumah Laksamana Maeda dianggap tempat yang aman dari ancaman tindakan militer Jepang, karena Maeda adalah Kepala Kantor Penghubung Angkatan Laut di daerah kekuasaan Angkatan Darat. Di kediaman Maeda itulah rumusan teks proklamasi disusun. Hadir dalam pertemuan itu Sukarni, Mbah Diro, dan BM.Diah dari golongan pemuda yang menyaksikan perumusan teks proklamasi. Semula golongan pemuda menyodorkan teks proklamasi yang keras nadanya, dan karena itu rapat tidak menyetujui. Berdasarkan pembicaraan antara Soekarno, Hatta, dan ahmad Soebardjo, diperoleh rumusan teks proklamasi yang ditulis tangan oleh Soekarno yang berbunyi:
Proklamasi Kami bangsa Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaan Indonesia. Hal-hal yang mengenai pemindahan kekuasaan d.l.l., diselenggarakan dengan tjara seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Djakarta, hari 17 boelan 8 Tahoen ’05, Atas nama bangsa Indonesia, Soekarno – Hatta.
B.Proklamasi Kemerdekaan Indonesia 1945
Perjuangan bangsa Indonesia dalam melawan penjajan yang bertujuan untuk tercapainya kemerdekaan Indonesia telah mencapai puncaknya. Proklamasi sebagai simbol kemerdekaan Indonesia adalah sebuah arti dari perjuangan dan tetesan darah para pejuang sehingga bangsa Indonesia bisa terbebas dari kekejaman penjajah. Karna dari Proklamasilah bangsa Indonesia dapat menata diri untuk dapat diakui Kemerdekaannya oleh dunia internasional.
1.Persiapan Pembacaan Teks Proklamasi
Setelah mendapatkan hasil dan menyepakati teks proklamasi dalam perumusan dirumah Laksamana Meida pada pagi hari tanggal 17 Agustus 1945, para tokoh dan juga golongan muda Kembali kerumahnya masing-masing untuk mempersiapkan penyelenggaraan pembacaan teks proklamasi. Jepang telah mengetahui rencana pembacaan proklamasi namun jepang mengira hal itu akan dilaksanakan dilapangan Ikada sehingga tentara Jepang memblokade lapangan tersebut. Bahkan para pemuda dan rakyat telah berdatangan kelapangan Ikada untuk menyaksikan pembacaan Teks Proklamasi. Pemimpin Barisan Pelopor Sudiro juga datang ke lapangan Ikada dan melihat pasukan Jepang dengan senjata lengkap menjaga ketat lapangan itu. Sudiro kemudian melaporkan keadaan itu kepada Muwardi, Kepala Keamanan Soekarno dan mengetahui bahwa proklamasi akan diikrarkan di rumah Soekarno Jalan Pegangsaan Rimur 56 Jakarta.
Menjelang pembacaan teks proklamasi halaman rumah soekarno telah dipadati oleh massa. Suasana pada saat itu sangat sibuk. Dr Muwardi memerintahkan kepada Latief Hendraningrat untuk menjaga keamanan pelaksanaan upacara. Dalam hal ini Latif dibantu oleh Arifin Abdurrahman, untuk mengantisipasi gangguan tentara Jepang. Wakil Walikota Jakarta Suwiryo memerintahkan kepada Wilopo untuk mempersiapkan perlengkapan yang diperlukan. Kemudian Wilopo menuju toko elektronik milik Gunawan untuk meminjam mikrofon dan alat pengeras suara lainnya.
Dan untuk mempersiapkan tiang bendera, Sudiro memerintahkan kepada S.Suhud, Komandan Pengawal Rumah Soekarno untuk mencari. Sahud mencari dan menemukan dibelakang rumah Soekarno ada sebatang bambu, kemudian dipasang tali lalu ditancapkan didekat teras rumah Soekarno. Dia lupa bahwa dihalaman rumah soekarno ada dua tiang bendera dari besi namun hal ini dapat dimaklumi karna dengan kondisi yang panik dan tergesa-gesa. Di tempat lain Fatmawati mempersiapkan bendera yang dijahit dengan tangan dan ukuran yang tidak standar.
Suasana memanas saat para pemuda menghendaki agar pembacaan teks proklamasi segera dilaksanakan, karna mereka tidak sabar lagi dan sudah menunggu dari pagi. Lalu mereka mendesak Mawardi agar mengingatkan Kembali kepada Soekarno mengingat waktu yang semakin siang. Namun Soekarno menolak dengan alasan Soekarno tidak bisa melaksanakannya tanpa Hatta. Suasana Kembali memanas saat Mawardi terus mendesak Soekarno, untungnya 5 menit sebelum pelaksanaan Hatta datang dan langsung menemui Soekarno seningga proses upacara proklamasi bisa dilaksanakan.
2.Pelaksanaan Upacara Proklamasi Kemerdekaan
Latief Hendraningrat sebagai pemimpin upacara segera memimpin barisan dan menyiapkan untuk berdiri dengan sikap sempurna. Sebelum membacakan teks proklamasi, Soekarno lalu mendekati mikrofon dan membacakan pidato singkat yang isinya sebagai berikut :
a. Perjuangan melawan kolonial telah cukup panjang dan memerlukan keteguhan hati.
b. Cita-cita perjuangan itu adalah kemerdekaan Indonesia.
c. Indonesia yang berdaulat harus mampu mennetukan arah dan kebijakannya sendiri, menjadi negara yang diakui oleh bangsa-bangsa lain di dunia.
Setelah itu kemudian Soekarno membacakan teks proklamasi yang diketik Sayuti Melik. Setelah selesai, pidato ditutup dengan kalimat: “demikainlah saudara-saudara!” Kita sekarang telah merdeka. Tidak ada satu ikatan lagi yang mengikat tanah air kita dan bangsa kita ! Mulai saat ini kita menyusun negara kita 1 Negara merdeka, negara Republik Indonesia Merdeka, kekal dan abadi. Insya allah, Tuhan memberkati kemerdekaan Indonesia” (Notosusanto, 1990: 94).
Setelah pembacaan teks proklamasi selesai selanjutnya yaitu pengibaran bendera yang dipimpin oleh Latief dan Suhud secara perlahan juga nyanyian Indonesia Raya yang secara spontan dilantunkan oleh hadirin. Setelah pengibaran bendera selesai upacara ditutup oleh sambutan Wakil Wali Kota dan Muwardi. Dan saat itulah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdaulat berdiri.
3.Penyebaran Berita Proklamasi
Kelompok Sukarni yang bermarkas di Bogor Lama (sekarang Jalan Dr. Sahardjo SH) sangat berperan dalam proses penyebaran berita proklamasi. Mereka mencoba mengatur strategi dengan menggunakan seluruh alat komunikasi yang ada.
Setelah dikumandangkan dan berita ini menyebar keseluruh penjuru Jakarta kemudian langsung disebar luaskan keseluruh Indonesia. Pada hari itu juga teks proklamasi sudah diserahkan oleh Syahrudin, wartawan Domei kepada kepala kantor bagian radio WB. Palenewen untuk disiarkan. Palenewen kemudian meminta F.Wuz seorang penyiar, agar menyiarkan berita proklamasi tiga kali berturut-turut. Tetapi, baru saja dua kali berita disiarkan, masuklah orang Jepang yang mengetahui siaran berita lewat udara, dan memerintahkan agar penyiaran dihentikan. Tetapi Penelewen tetap memerintahkan Wuz untuk tetap menyiarkan berita proklamasi, bahkan terus diulangi setiap setengah jam sampai pukul 16.00. Akibatnya, pimpinan tentara Jepang di Jawa memerintahkan untuk meralat berita tersebut dan mengatakannya sebagai kekeliruan. Kemudian pada hari senin tanggal 20 agustus 1945 pemancar radio itu disegel oleh Jepang dan karyawannya dilarang masuk.
Penyebaran berita proklamasi tidak terbatas melalui udara, tetapi juga melalui pers dan slebaran-slebaran kertas. Dalam hal ini, peran buruh kereta api sangat besar dalam membawa berita proklamasi melalui surat-surat slebaran. Pada tanggal 20 Agustus 1945, hampir seluruh harian di Jawa memuat berita proklamasi dan UUD Negara Republik Indonesia yang baru saja dibentuk. Selanjutnya berita proklamasi dengan cepat tersebar ke seluruh penjuru tanah air, yang segera pula mendapat sambutan dari rakyat.
C.Pembentukan Pemerintah Republik Indonesia
Dilihat dari segi hukum tata negara, secara otomatis Indonesia telah membentuk suatu tatanan baru dan memutus ikatan dengan tatanan sebelumnya. Baik ikatan hukum Hindia-Belanda maupun Jepang. Sehari setelah proklamasi dikumandangkan, para pemimpin bekerja keras membentuk lembaga kepemerintahan sebagaimana layaknya suatu negara merdeka. Dalam kesempatan ini, PPKI menyelenggarakan rapat pada tanggal 17 Agustus 1945, sebagai rapat yang pertama setelah proklamasi kemerdekaan. Atas inisiatif Soekarno dan Hatta, mereka merencanakan menambah 9 orang sebagai anggota baru yang terdiri dari para pemuda seperti Chairul Saleh dan sukarni. Namun karena para pemuda menganggap bahwa PPKI bentukan Jepang, akhirnya para pemuda meninggalkan tempat.
1.Pengesahan UUD 1945
Rapat pertama PPKI dilaksanakan di Pejambon Jakarta. Sebelumnya Soekarno dan Hatta meminta Ki Bagus Hadikusumo, KH.Wachid Hasjim, Mr. Kasman Singodimedjo, Mr.Teuku Mohammad hassan, untuk mengkaji piagam Jakarta yang dibuat oleh BPUPKI terkhusus tulisan “Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi para pemeluk-pemeluknya”. Karna dalam hal ini pemeluk agama lain sangatlah keberatan untuk dimasukan kedalam UUD, maka dari itu hal ini perlu dikaji demi keutuhan dan kesatuan bangsa Indonesia. Setelah melakukan musyawarah yang dipimpin oleh Hatta akhirnya mereka sepakat agar menghilangkan kalimat tersebut.
Dibawah pimpinan Soekarno dan Hatta rapat pleno yang dimulai pukul 11.30 dalam rangka membahas UUD berjalan dengan lancar, yakni dalam waktu dua jam mereka berhasil menyepakati rancangan pembukaan dan UUD Republik Indonesia. Yang dimaksud dengan Rancangan ini adalah Piagam Jakarta yang dibuat oleh BPUPKI. Dengan sedikit perubahan Akhirnya rancangan ini disahkan menjadi UUD yang berisi Pembukaan, Batang Tubuh yang terdiri dari 37 Pasal, 4 Pasal Aturan Peralihan dan 2 Ayat Aturan Tambahan disertai dengan penjelasan. Dan dari sinilah Indonesia mempunyai landasan hukum dalam bernegara.
2.Pemilihan Presiden Dan Wakil Presiden
Ottoiskandardinata dalam hal ini langsung mengusulkan bahwa Presiden dan Wakil Presiden ditentukan secara mufakat. Ia langsung mengusulkan Soekarno dan Hatta tentunya sesuai dalam UUD yang telah disahkan. Secara Aklamasi dalam musyawaron untuk mufakat para peserta siding langsung menyetujui Soekarno dan Hatta masing-masing sebagai Presiden dan Wakil Presiden dengan diiringi lagu Indonesia Raya.
3.Pembagian Wilayah Indonesia
Pada tanggal 19 Agustus PPKI memutuskan pembagian wilayah Indonesia menjadi 8 provinsi bekas penjajahan Hindia Belanda, yaitu provinsi Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Borneo (Kalimantan), Maluku, Sulawesi, Sunda Kecil (Nusatenggara), Sumatera, dan Daerah Istimewa Yogyakarta dan Surakarta.
4.Pembentukan Kementrian
Setelah penetapan wilayah, panitia yang dipimpin Ahmad Soebarjo menyampaikan laporan. Lalu mereka mengajukan adanya 13 kementrian dan siding dilanjut untuk membahas hal tersebut. Sidang yang membahas hal tersebut akhirnya menetapkan hasil sebagai berikut :
a. Departemen Dalam Negeri
b. Departemen Luar Negeri
c. Departemen Kehakiman
d. Departemen Keuangan
e. Departemen Kemakmuran
f. Departemen Kesehatan
g. Departemen Pengajaran, Pendidikan, dan Kebudayaan
h. Departemen Sosial
i. Departemen Pertahanan
j. Departemen Perhubungan
k. Departemen Pekerjaan Umum.
5.Pembentukan Komite Nasional Indonesia
Selang dua hari setelah menetapkan Kementrian PPKI Kembali melakukan rapat dalam rangka pembentukan KNIP (Komite Nasional Indonesia Pusat) pada tanggal 22 Agustus 1945.
Seluruh anggota PPKI selain Soekarno dan Hatta menjadi anggota KNIP yang kemudian dilantik pada tanggal 29 Agustus 1945. Berikut susunan kepengurusan KNIP :
Ketua KNIP : Mr. Kasman Singodimejo
Wakil Ketua I : Sutarjo Kartohadikusumo
Wakil Ketua II : Mr.J.Latuharhary
Wakil Ketua III : Adam Malik
Adapun tugas dan wewenang KNIP adalah sebagai badan pengawas.
6.Membentuk Kekuatan Keamanan Dan Pertahanan
Dari hasil rapat yang telah menetapkan berdirinya KNIP, pada tanggal 23 Agustus 1945 Presiden Soekarno mengesahkan secara resmi BKR sebagai badan kepolisian yang bertugas menjaga keamanan. Kebanyakan angota BKR terdiri dari mantan anggota PETA, KNIL, dan Heiho.
Seiring berjalannya waktu, Presiden Soekarno tidak bisa mengabaikan dalam pembentukan tentara, sebab serdadu belanda telah dilepaskan dan melakukan tindakan yang mengancam keamanan negara. Soekarno kemudian memanggil mantan Mayor KNIL Oerip Soemihardjo dari Yogyakarta ke Jakarta dan diberi tugas mebentuk tentara nasional. Berdasarkan maklumat presiden RI, maka pada tangal 5 Oktober berdirilah TKR (Tentara Keamanan Rakyat). Terpilih sebagai pimpinan TKR Soepriyadi (tokoh perlawanan tentara PETA terhadap Jepang di Blitar). Atas dasar maklumat itu, Oerip Soemihardjo segera membentuk Markas Besar TKR yang dipusatkan di Yogyakarta.
Lalu pada tanggal 7 Januari 1946 TKR (Tentara Keamanan Rakyat) berubah menjadi TKR (Tentara Keselamatan Rakyat). Dan ditanggal 24 Januari 1946 nama iku kembaki diubah menjadi TRI (Tentara Republik Indonesia). Yang terakhir sejarah mencatat pada tanggal 3 1947 bahwa TRI mengubah Namanya menjadi TNI (Tentara Nasional Indonesia). Baru pemerintah berhasil menyusun, mengkonsolidasi, dan sekaligus menyatukan alat pertahanan dan keamanan. Pada pertengahan tahun 1947.
D.Sikap Rakyat Terhadap Proklamasi Kemerdekaan
Proklamasi Kemerdekaan yang menjadi puncak dalam merebut kekuasaan dari tangan penjajah memunculkan respon dari masyarakat. Kurang lebih Sebagian besar rakyat Indonesia telah mengetahui makna dari proklamasi. Namun ada juga yang memaknai bahwa kemerdekaan adalah kebebasan sehingga menimbulkan revolusi sosial dengan memberikan perlawanan terhadap tentara jepang maupun penduduk pribumi yang pada masa colonial memihak kepada Belanda maupun Jepang.
1.Rapat Raksasa Di Lapangan Ikada
Pada umumnya rakyat Indonesia melakukan aksi dalam rangka mendukung proklamasi kemerdekaan Indonesia. Para pemuda yang dipelopori oleh Komite van Aksi Menteng 31, ingin para pemimpin negara bertemu dengan rakyat dan berbicara mengenai kemerdekaan. Rencana ini langsung disetujui oleh presiden dan wakil presiden yaitu Soekarno dan Hatta begitupun para mentri juga sepakat dengan usulan itu.
Rencana itu juga menimbulkan masalah baru uaitu sikap tentara jepang. Presiden harus mempertimbangkan banyak hal agar tidak terjadi keributan. Dalam pertimbangannya kemudian presiden mengadakan siding kabinet yang bertempat di kediamannya. Sidang kabinet diselenggarakan pada tanggal 9 September 1945 dan berlangsung sampai tengah malam, sehingga sidang ditunda sampai pukul 10.00 pagi. Pada pagi harinya sidang dilanjutkan lagi di Lapangan Banteng Barat dan dihadiri oleh para pemimpin pemuda atau para pemimpin Badan Perjuangan. Dan para pemimpin muda menginginkan agar pertemuan antara pemimpin negara dengan rakyat tidak dibatalkan.
Setelah menyetujui hal itu Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Hatta Bersama mentrinya menuju lapangan Ikada. Dan ternyata masa dengan bekal senjata tajam telah memenuhi lapangan ikada begitupun jepang dengan tank-tanknya. Sebelum memasuki lokasi, mobil presiden diberhentikan terlebih dahulu oleh komandan jaga dan kemudian dipersilahkan untuk memasuki lapangan Ikada. Setelah turun dari mobil, Soekarno langsung maju dan naik keatas panggung untuk menyampaikan pidato singkatnya. Soekarno meminta kepada rakyat Indonesia untuk mendukung secara penuh serta mematuhi Pemerintah Republik Indonesia. Seusai melakukan pidato singkatnya, Soekarno langsung memerintahkan kepada masa untuk meninggalkan lapangan dengan tertib dan ternyata rakyat yang pada waktu itu berasa dilokasi tersebut mematuhi apa yang dikatakan oleh presiden mereka. Melihat hal tersebut Soekarno beranggapan bahwa rapat raksasa ini adalah langkah awal dari kebijaksanaan pemerintah Indonesia kepada rakyatnya.
2.Tanggapan Daerah Terhadap Proklamasi
Selain masyarakat pusat yang merespon tentang proklamasi kemerdekaan, didaerah-daerah juga melakukan memerapa aksi dalam merespon hal tersebut. Berikut adalah peristiwa yang terjadi dibeberapa daerah :
a.Peristiwa Di Surabaya
Permusuhan antara rakyat dengan orang-orang belanda bekas tawanan jepang meledak pada tanggal 19 September 1945 di Hotel Yamato. Dilatar belakangi oleh perilaku orang-orang belanda yang mengibarkan bendera merah putih biru dihotel yamato membuat pemuda marah. Tanpa pikir Panjang beberapa dari pemuda itu mencoba memanjat Gedung dan akhirnya berhasil dan kemudian menyobek warna biru dan tersisa warna bendera merah putih. Peristiwa ini juga disertau perkelahian antara orang-orang belanda dengan pemuda yang mengakibatkan meninggalnya kapten Polegman. Para pemuda juga mengadakan pawai dalam rangka mendukung kemerdekaan Indonesia walaupun telah mendapat larangan dari tentara Jepang mereka mengabaikannya.
Disurabaya juga berdiri Pemuda Republik Indonesia atau Laskar pemuda pada 23 September 1945 yang dipimpin oleh Sumarsono, Kaslan, Supardi, Ruslan Wijaya, Krissubanu, dan Sutomo yang kemudian lebih dikenal dengan nama Bung Tomo. Sebagai lambing kekejaman dari tentara Jepang para pemuda kemudian menyegel markas mereka. Walaupun demikian terjadi perang selama 5 jam yang mengakibatkan 25 pemuda gugur dan 60 luka-luka serta 15 tentara Jepang tewas.
b.Peristiwa Di Bandung
Pada bulan September para pemuda berhasil menguasai Gedung-gedung pemerintahan. Sutoko sebagai salah satu tokoh pemuda berunding dengan tentara Jepang di Jawa Barat Jenderal Mabuchi berkaitan dengan masalah senjata. Pada tanggal 14 Oktober 1945 telah disepakati suatu perjanjian oleh Mabuchi dan Puradireja yang saat itu menjabat Residen Priaangan yang isi pokoknya adalah sebagai berikut :
Bendera merah putih bleh dikibarkan digudang-gudang senjata milik Jepang.
Diadakan patroli bersama yang dipimpin oleh pihak Indonesia.
Jepang memiliki tanggung jawab penuh terhadap penjagaan gudang.
Residen Puradireja, Mabuchi, dan BKR setempat serta KNI Daerah mengatur masalah pengangkutan dan penggunaan barang-barang terutama senjata yang ada dalam gudang itu.
Alasan Residen menerima perundingan itu tidak jelas, barangkali karena percaya bahwa Jepang akan menyerahkan senjata. Ketika Jepang melanggar janji tidak mau menyerahkan senjata, para pemuda menyalahkan residen dan pihak yang menyetujui perundingan itu, sehingga mereka harus menebusnya dengan nyawanya. Kemudian pada tanggal 6 Oktober para pemuda melakukan aksi boikot terhadap orang-orang Belanda bekas tawanan Jepang. Mereka kemudian menyerbu gudang senjata dan berhasil merebutnya.
c.Peristiwa Di Surakarta
Terjadi pengambilalihan kekuasaan seperti Gedung pemerintahan dan juga pabrik gula yang ada di Sragen dan Klaten yang dipelopori oleh Angkatan muda beserta barisan pelopor lainnya. Pada tanggal 1 Oktober 1945 para pemuda yang tergabung dalam badang-badan perjuangan mengadakan pawai dalam rangka menyambut kemerdekaan. Setelah itu mereka juga berhasil merebut bangunan pangkalan militer. Tanggal 6 Oktober akhirnya mereda dapat memaksa Jepang untuk menyerahkan senjatanya.
Berikut adalah beberapa peristiwa dalam rangka merespon Kemerdekaan Republik Indonesia. Dengan tekad yang kuat sehingga rakyat dipenjuru Indonesia juga turut aktif dan mendukung secara penuh atas apa yang telah dilakukan oleh para pejuang kemerdekaan.
E. Perjuangan Mempertahankan Kemerdekaan
a.Perjuangan Bersenjata
Setelah proklmasi kemerdekaan, bukan berarti perjuangan bangsa Indonesia telah usai menyelesaikan. Namun sebaliknya, tugas kita semakin lama semakin sulit yaitu bagaimana mempertahankan kemerdekaan bangsa Indonesia yang telah bekerja sangat keras untuk mencapai, dan bagaimana mengisi mandiri ini. Sekutu tiba ditemani oleh tentara Nika ancaman serius bagi kelangsunan kemerdekaan Indonesia, Oleh karena itu berusahalah untuk terus mempertahankan kemerdekaan melalui perang dan diplomasi. Ketika Belanda kalah dari jepang, Belanda membentuk NICA di Brisbane,Australia, dibawah kepemimpinan Van Mucker. Setelah jepang dikalahkan oleh pasukan koalisi, Belanda ingin kembali ke Indonesia. Alasan utamanya adalah karena alas an ekonomi, menyebut Indonesia bukan lagi jajahan belanda, tetapi wilayahnya sejajar dengan wilayah belanda didalam wilayah eropa. Tujuannya untuk memberikan dasar hokum bagi belanda untuk kembali ke Indonesia internasionalisme yang kuat ahkan mengakui Indonesia sebagai bagian dari wilayah belanda di sisi lain di terima oleh dunia internasional. Pasukan sekutu yang bertanggung jawab atas wilayah Indonesia adalah anggota AFNEI (Allied forcas Netherlands east indies) yang di pimpin oleh Sir Philip Christiansen dari angkatan darat inggris. Adapun misi AFNEI itu untuk melucuti tentara jepang, membebaskan tawanan perang, dan berorganisasi dengan RI.
Warga inggris dan orang-orang yang di pimpin oleh Brigjen AWS Mallaby perwakilan Republik Indonesia. Pertemuan terseut mencapai kesepakatan sebagai berikut:
1.Tentara Inggris tidak akan memasukkan serdadu Belanda.
2.Menjaga kemanan dan ketentraman bersama.
3.Kerjasama pemerintah RI dengan Sekutu.
4.Inggris akan melucuti tentara Jepang.
Namun dalam pratiknya, inggris malah mengingkari kesepakatan tersebut secara sepihak AFNEI dan NICA mencapai kesepakatan untuk memulihkan status Indonesia Kekuatan Belanda. Perjanjian tersebut menodai proklamasi kemerdekaan Indonesia, dan Hal ini sangat bertentangan dengan semangat juang bangsa Indonesia. jadi, Tidak mungkin terjadi pertempuran antara tentara Indonesia dengan tentara Sekutu atau Belanda menghindari. Pertempuran terjadi di seluruh wilayah Indonesia yang diduduki tentara Sekutu dan Belanda.
1.Pertempuran Surabaya
Pasukan Sekutu yang dipimpin oleh Marabi mendarat di Tanjung Perak Surabaya pada tanggal 25 Oktober 1945. Kehadiran pasukan Sekutu sebagai anggota AFNEI mengakibatkan Prajurit dan pemuda menduga kedatangannya didampingi oleh NICA. Ternyata Tebakan mereka benar, bahkan banyak tahanan Belanda yang dibebaskan, mereka Tentara Jepang hanya bisa dilucuti senjatanya saja. Akhirnya pada tanggal 27 Oktober 1945 pertempuran tidak Antara pejuang Sekutu dan bangsa Indonesia dapat dihindari. Ada Pertempuran terus menyebar ke seluruh kota, mengakibatkan kematian Brigadir Jenderal Malaby.Sekutu kemudian mengirim Mayor Jenderal Mansegg untuk membalas kematian Malaby. Tanggal 10 November Surabaya diserang baik dari darat, laut maupun udara oleh pasukan sekutu. Namun para pejuang terus berusaha mempertahankan kota itu sampai hampir saja tiga minggu lamanya. Tetapi karena kekuatan yang tidak seimbang, akhirnya Surabaya dikuasai oleh sekutu. Markas pertahanan Surabaya dipindahkan ke desa Lebani Waras, yang dikenal dengan nama Markas Kali, untuk terus melakukan perjuangan meskipun dengan kekuatan yang sangat kecil.
2.Pertempuran Ambarawa
Dari 20 November hingga 15 Desember 1945, pertempuran terjadi Pemuda Indonesia dan TKR bertempur sengit melawan pasukan Inggris di Ambaawa. Peristiwa Hal ini dipicu ketika Sekutu mendarat di Semarang pada 20 Oktober 1945, dan mereka Berwenang untuk merawat tawanan perang di penjara Ambarawa dan Magelang. Sekutu awalnya ditemani oleh tentara NICA yang kemudian mempersenjatai mantan tawanan. Hal ini tidak dapat diterima oleh kaum muda dan TKR, yang mengakibatkan Peristiwa Magelang kemudian berujung pada Pertempuran Ambarawa. Koalisi putus asa Akhirnya pada tanggal 15 Desember 1945 mereka meninggalkan kota Ambalawa dan mundur ke Semarang.
3.Pertempuran Medan Area
Pasukan Sekutu di bawah pimpinan Brigjen TED Kelly, 9 Oktober 1945 Mendarat di Sumatera Utara. Di sini, Sekutu juga didampingi oleh Nika. ada Untuk menghormati Sekutu, pemerintah Indonesia diizinkan untuk menduduki beberapa wilayah Hotel di Kota Medan. Beberapa di antaranya bertempat di Binjai dan Tanjung Manawa. Mereka Tawanan perang kemudian dibebaskan dan bahkan dipersenjatai. Ternyata Orang-orang NICA dan kelompok tawanan yang dibebaskan ini bersenjata lengkap dan siap Ambil alih pemerintah. Sikap arogan Belanda menyebabkan Ketidakpuasan Pemuda dan TKR. Kapan Mereka membentuk "Camp Garnier". Faktor ini menyebabkan Berbagai pertempuran pada 13 Oktober 1945. 1 Desember 1945, pasukan Sekutu memasang papan-papan yang bertuliskan Fixed Boundaris Medan Area di berbagai sudut kota di Medan. Tindakan ini semakin membakar semangat para pemuda dan TKR. Pada tanggal 10 Desember 1945 berusaha menghancurkan konsentrasi TKR di Trepas akan tetapi berhasil digagalkan. Di Tebing Tinggi pada tanggal 10 Agustus 1946 setelah Sekutu menguasai kota Medan, diadakan pertemuan antara komandan-komandan pasukan yang berjuang di Medan Area. Dalam pertemuan itu diputuskan bahwa dibentuk Komando Resimen Laskar Rakyat Medan Area yang markasnya dipusatkan di Sudi Mengerti (Trepes). Dari sinilah para pejuang yang tergabung dalam resimen ini meneruskan perjuangan di Medan Area.
4.Peristiwa Lautan Api
Seperti kota-kota lain di Indonesia, Kota Bandung memiliki perjuangan Terhadap sekutu yang sedang berlangsung. Pasukan Sekutu telah menduduki Bandung sejak Oktober 1945.
Young dan TKR juga berusaha melucuti senjata tentara Jepang dan menyita senjata mereka.
Pasukan Sekutu meminta orang-orang muda untuk menyerahkan senjata curian. Sekutu juga memerintahkan TKR untuk meninggalkan kota Bandung Utara paling lambat Tanggalnya 29 Oktober 1945. Namun, TKR yang dipimpin oleh Aruji tidak memperhatikan pengumuman tersebut Kartawinata, bahkan menyerang markas Sekutu. Pengumuman pertama diabaikan, dan Sekutu kemudian mengeluarkan pemberitahuan, Kedua, TKR yang saat itu berganti nama menjadi TRI harus keluar kota Bandung. Terima kasih atas pengumuman kantor pusat TRI di Yogyakarta, pelan-pelan TRI Meninggalkan kota Bnadung saat sabotase dan penyerbuan markas Sekutu Kota Bandung. Serangan-serangan ini menimbulkan kebakaran-kebakaran sehingga Bandung Selatan dibumihanguskan. Peristiwa inilah yang kerap kali dikenal sebagai Bandung Lautan Api.
5.Serangan Umum 1 Maret 1949
Perlawanan rakyat Indonesia sampai hengkangnya Belanda dari bumi Indonesia terus beralngsung baik di Jawa maupun luar Jawa. Beberapa pertempuran sengit terjadi antara pasukan Indonesia melawan Sekutu ataupun melawan Belanda. Perlawanan lain misalnya terjadi di Bali, Manado, Biak, dan Kalimantan. Dalam hal perjuangan ini, peristiwa besar yang patut dicatat dalam sejarah perjuangan adalah peristiwa Serangan Umum 1 Maret 1949.Setelah dua kali Belanda melakukan Agresi Militer, yakni tahun 1947 dan 1949,Belanda merasa bahwa pemerintahan Indonesia telah lumpuh, yang ada hanyalah kekuatan Belanda. Belanda mengklaim bahwa TNI telah kalah dan mundur kehutan-hutan melakukan gerilya. Dugaan ini ternyata meleset karena pada tanggal 1 Maret 1949 TNI melakukan serangkaian serangan yang dipersiapkan dengan rapih. Insiden ini kemudian dikenal dengan nama Serangan Umum 1 Maret 1949. Serangan terorganisir ini dilakukan oleh TNI dibawah komando Letkol Soeharto. Serangan dilakukan dalam 5 sektor yakni sektor Uatara yang dipimpin oleh Mayor Kusno, sektor Barat Letkol Ventje Samual, sektor Selatan dan Timur oleh Mayor Sarjono, dan kota dipimpin oleh Letnan Amir. Serangan dimulai pada pukul 06.00 sampai dengan pukul 12.00 WIB dan berhasil memporakporandakan tentara Belanda dan memaksanya untuk keluar dari Yogyakarta. Namun pasukan TNI yang berhasil menguasai Yogyakarta selama 6 jam segera keluar dari kota Yogyakarta sebelum pasukan Belanda yang lebihh besar kembali. Peritiwa ini dampaknya cukup besar dalam rangka membakar semangat TNI diwilayah lain yang juga berhadapan dengan Agresi Militer Belanda. Adapun keberhasilan dari serangan ini tidak terlepas dari peran penting Sri Sultan Hamengkubuwono IX yang memberi peluang kepada TNI untuk bergerak bebas menyusup di dalam kota Yogyakarta.
b. Perjuangan Diplomasi
Untuk mendapatkan pengakuan dunia internasional mengenai kemerdekaan RI, maka perjuangan Diplomasi adalah jalan yang strategis. Perjuangan diplomasi dimaksudkan untuk mengukuhkan bahwa Indonesia telah berdaulat dan mengharapkan PBB untuk mendukungnya dan mendesak agar Belanda segera hengkang dari bumi Indonesia. Untuk kepentingan ini, Indonesia harus menjalin hubungan yang baik dengan negara-negara lain maupun PBB untuk mendukung perjuangannya melalui diplomasi.
1.Menjalin Hubungan Internasional
Untuk menarik dukungan Internasional, maka Indonesia harus menjalin hubungan yang baik. Untuk memperjuangkannya, maka dapat dilakukan langsung melalui PBB dengan mengajukan masalah Indonesia dalam Sidang Keamanan PBB, maupun secara tidak langsung dengan membina hubungan yang baik dengan negara-negara yang dapat mendukung dalam persidangan di PBB. Upaya menarik dukungan ini berupa menjalin hubungan yang baik dengan Australia ketika bergabung dalam Sekutu, dengan India, negara-negara Arab, dan berjuang melalui PBB.
2.Perjanjian Linggajati
Perjuangan diplomasi yang diupayakan oleh pemerintah Indinesia dalam tahap awal masa perundingan adalah diselenggarakannya Perjanjian Linggajati pada tanggal 15 November 1946. dalam hal ini Inggris berperan penting dengan mengutus Lord Killearn ke Indonesia untuk menjadi perantara perundingan Indonesia dengan Belanda. Adapun Linggajati adalah sebuah kota dekat Cirebon di Lereng Gunung Cerme Jawa Barat. Dalam perundingan itu utusan Indonesia dipimpin oleh Perdana Menteri Syahrir, sedangkan delegasi Belanda dipimpin oleh Schermerhorn.
Adapun pokok utama Perjanjian Linggajati yang terdiri dari 17 pasal ketentuan itu adalah sebagai berikut :
Pemerintah Belanda secara de facto mengakui pemerintahan RI atas Jawa, Madura, dan Sumatera.
Pemerintah Belanda dan RI membentuk Negara Indonesia Serikat yang wilayahnya meliputi seluruh Hindia Belanda.
Dibentuk Uni Indonesia Belanda.
Dicapainya kesepakatan oleh kedua belah pihak, bukan berarti perjanjian itu langsung dapat dilaksanakan. Kesepakatan sudah dapat dilaksanakan apabila parlemen baik Indonesia maupun Belanda menyetjuinya. Parlemen Indonesia dalam hal ini adalah KNIP. Dalam hal ini parlemen Belanda tidak langsung menyetujui perjanjian tersebut. Namun setelah ada keyakinan bahwa hal itu bersifat sementara, dan masih akan diadakan pengaturan lebih lanjut, maka parlemen Belanda menyetujuinya. Sikap ragu-ragu pada awal perjanjian ini diakibatkan oleh kalangan konservatif di parlemen Belanda merasa khawatir kehilangan Indonesia. Sedangkan KNIP juga tidak langsung menyetujui Perjanjian Linggajati, karena dianggap terlalu menguntungkan pihak Belanda, dan tidak sejalan dengan tuntutan kemerdekaan. Dengan beberapa kali pengajuan nota keberatan baik dari perlemen Belanda maupun KNIP akhirnya Perjanjian Linggajati disahkan di Jakarta pada tanggal 25 November 1946. Dalam pengesahan perjanjian ini delegasi Indonesia terdiri dari Perdana Menteri Syhrir, Dr. AK. Gani, Mr. Susanto Tirtoprodjo, dan Mr. Moh Roem. Sedangkan delegasi Belanda terdiri atas Prof. Schermerhorn, Van Poll, dan Dr. Van Mook.
Adapaun yang menjadi alasan RI menerima Pejanjian Linggajati adalah sebagai berikut.
Masih lemahnya kekuatan militer Indonesia menjadikan pertimbangan bagi pemerintah RI untuk menempuh jalan damai.
Dengan disepakatinya perjanjian itu, RI mempunyai kesempatan untuk meningkatkan kekuatan militernya.
Pilihan cara damai akan mendapat simpati dunia internasional untuk memperjuangkannya lebih lanjut dalam perjanjian-perjanjian yang lain.
Sikap pemerintah RI yang lunak dalam perjanjian ternyata mendapat simpati dunia internasional. India adalah negara yang pertama mengakui kedaulatan RI, yang kemudian diikuti oleh negara-negara Arab seperti (Saudi Arabia, Libanon, Mesir, Yaman). Kemudian Inggris, Amerika Serikat, Afghanistan, Burma, dan Uni Sovyet. Akan tetapi perjanjian Linggajati telah menurunkan pamor Kabinet Syahrir yang dianggap telah merugikan pihak Indonesia, dan harus dibayar dengan kejatuhannya dari kabinet. Pro kontra juga terjadi pada kalangan badan-badan perjuangan, sehingga memunculkan insiden-insiden yang berupa perlawanan terhadap Belanda.
3.Agresi Militer Belanda 21 Juli 1947
Pada saat memikirkan perihal perjanjian Linggajati untuk dilaksanakannya atau tidak, Belanda secara sepihak melancarkan serangan ke daerah-daerah RI baik di Jawa maupun di Luar Jawa. Belanda berdalih bahwa RI sebagai tidak bersedia mentaati Perjanjian Linggajati. Belanda mengerahkan seluruh kekuatannya baik pasukan darat maupun udara, dan membombardir ibu kota RI di Yogyakarta. Jika dipandang dari segi taktik perang maupun diplomasi, Belanda selalu licik dalam menjalankan manuvernya. Sebenarnya penyerangan serentak Belanda ini memiliki tujuan untuk melenyapkan pemerintahan RI, merebut pusat-pusat perdagangan, dan berkeinginan untuk menghancurkan TNI. Dengan penyerangan tidak berdasar itu maka habislah riwayat Perjanjian Linggajati.
4.Upaya Diplomasi
Ditengah suasana perang, dimanaTNI kekuatannya diporakporandakan oleh kekuatan musuh, maka upaya diplomasi terus diupayakan oleh kelompok moderat. Mereka menunjukkan bahwa Indonesia tidak menghendaki aksi penyerangan-penyerangan melainkan Belandalah yang telah memulainya. Melalui perjuangan diplomasi, muncullah reaksi dunia internasional terhadap penyerangan-penyerangan yang dilakukan Belanda. Amerika Serikat menyerukan agar Indonsia dan Belanda melakukan gencatan senjata. Australia mengajukan resolusi pada Dewan Keamanan PBB. Sementara Uni Soviet mendesak agar pasukan Belanda ditarik dri wilayah RI. Pad atanggal 3 Agustus 1947 Belanda menerima resolusi Dewan Keaman PBB untuk melakukan gencatan senjata. Baik TNI maupun tentara Belanda tidak menjamin gencatan senjata. Bahkan pihak Belanda sering melakukan pelanggaran-pelanggaran terbukti dengan dibiarkannya tentara Belanda terus bergerak melakukan penyerangan dan pengepungan atas wilayah RI.
5.Serangan Umum 8 Desember 1947
Persoalan diplomasi terus di persoalkan baik dari pihak indonesia maupun dunia internasinal yang menaruh simpati kepada perjungan indonesia. Amerika serikat menyarankan agar DK PBB membentuk suatu komisi untuk perundingan Indonesia-Belanda.Usul itu diterima oleh PBB dan dibentuklah Commitee of Good Office (Komisi Jasa-jasa Baik) sebagai penengah konflik Indonesia-Belanda. Indonesia memilih Australia, sedangkan Belanda memilih Belgia sebagai wakilnya, dan kemudian memilih Amerika Serikat sebagai negara ketiga.Komisi Jasa-jasa Baik kemudian dikenal dengan KTN (Komisi Tiga Negara) yang pada akhirnya berhasil mempertemukan pihak Belanda dan RI di atas sebuah kapal yang bernama Renvile pada tanggal 8 Desember1947. Perjanjian ini kemudian dikenal dengan nama Perjanjian Renvile. Tampil perwakilan Indonesia yang dipimpin oleh Amir Syarifuddin sedangkan perwakilan Belanda dipimpin oleh Abdulkadir Wijiyoatmojo. Pada tanggal 17 Januari 1948 Perjanjian Renvile disahkan oleh kedua belah pihak meskipun perjuangannya sangat alot karena tarik menarik kepentingan.
Adapun kesepakatan-kesepakatan dari perjanjian Renvile adalah sebagai berikut.
Kepakatan untuk melakukan gencatan senjata.
Disetujuinya Garis Demokrasi Van Mook.
Kesepakatan untuk menyelesaikan konflik dengan cara damai dan dengan bantuan KTN.
Dibentuknya Negara Indonesia Serikat dimana RI hanya menjadi bagian saja dari NIS.
Kedaulatan Indonesia tetap di tangan Belanda selama masa peralihan sampai kemudian kedaulatan diserahkan kepada NIS.
Dengan diterimanya Perjanjian Renvile ini, maka wilayah RI semakin sempit. Hal ini
menimbulkan reaksi keras baik dari para pemuda maupun TNI. Bahkan pejuang diplomasi
dianggap telah gagal dalam mempertahankan keutuhan RI. Tetapi basis-basis pertahanan TNI terpaksa harus hijrah ke Yogyakarta karena adanya Garis Van Mook yang mengharuskan mereka untuk mengosongkan basis-basis pertahanan di belakang garis itu. Oleh karena itu, banyak anggota TNI yang kecewa dan tidak mau hijrah ke Yogyakarta. Mereka kemudian melakukan pemberontakan-pemberontakan seperti DI TII Kartosuwiryo di Jawa Barat, dan DI TII Amir Fatah di Jawa Tengah. Di luar Jawa juga terdapat pihak-pihak yang tidak mengakui Perjanjian Renvile. Bahkan di parlemen sendiri banyak pihak yang menolak sehingga mengakibatkan jatuhnya Kabinet Amir Syarifuddin. Di tengah upaya pelaksanaan Perjanjian Renvile, Belanda tetap melakukan aksi liciknya. Pada tanggal 25 Desember 1947, Belanda secara sepihak membentuk negara-negara boneka.Negara Sumatera Timur (NST) didirikan pada 25 Desember 1947. Banyak lagi negara boneka yang didirikan oleh Belanda seperti Negar Indonesia timur (NIT), Negara Madura, Negara Jawa Timur dan lain sebagainya.
6.Agresi Militer Belanda II 19 Desember 1948
Berlandaskan kesepakatan RI dan Belanda serta KTN, akan dibentuk negara federal. Searah dengan itu Belanda terus menerus melakukan propaganda dan mempersempit daerah kekuasaan RI. Bahkan Belanda berharap agar RI lenyap terbukti dengan penyerangan-penyerangan Belanda yang mengalami puncaknya pada tanggal 19 Desember 1948. Dengan adanya agresi militer II ini hampir semua kota-kota di Indonesia diduduki oleh Belanda, termasuk Ibu kota RI di Yogyakarta tidak terhindar dari penyerbuan Agresi II ini padahal dalam Perjanjian Renvile Belanda telah mengakui wilyah RI. Meskipun hampir semua kota dapat diduduki oleh Belanda, namun dampaknya tidak menguntungkan pihak Belanda. Semangat berjuang semakin berkobar di kalangan rakyat Indonesia. Walaupun dilihat dari persenjataannya jauh berbeda, akan tetapi dalam menghadapi kelicikan pihak Belanda, bangsa Indonesia tidak dapat ditakut-takuti dengan persenjataan yang lengkap. Perjuangan terus dikobarkan baik dengan jalan perang maupun diplomasi.
7.Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI)
Agresi Militer Belanda II 19 Desember 1948, mengakibatkan Ibu kota RI Yogyakarta jatuh ke tangan Belanda. Presiden dan wakil presiden ditawan oleh Belanda. Dalam penangkapan itu, presiden sempat mengirimkan radiogram yang memberikan kekuasaan kepada Syafruddin Prawiranegara yang saat itu menjabat sebagai Menteri Kemakmuran untuk membentuk Pemerintah Darurat RI di Sumatera. Soekarno dan Hatta ditangkap karena menolak maklumat Belanda untuk memerintahkan rakyat menghentikan perlawanan. Atas dasar instruksi presiden tersebut, Syafruddin Prawiranegara kemudian membentuk PDRI diBukittinggi, Sumatera Barat. Syafruddin sendiri kemudian mengukuhkan dirinya sebagai pejabat presiden merangkap Menteri Pertahanan dan Penerangan. Dengan demikian PDRI telah memainkan peranan yang penting dalam sejarah perjuangan bangsa. Bahkan PDRI berani menunjukkan kepada Belanda dan dunia internasional bahwa RI masih ada. Hal ini menepis anggapan dan propaganda Belanda yang menyatakan bahwa RI sudah gulung tikar. Peran PDRI juga semakin nyata terbukti dengan instruksi Pejabat Presiden kepada wakil RI di PBB yang isinya bahwa Indonesia bersedia melakukan gencatan senjata dan mengadakan persetujuan dengan Belanda. Tindakan PDRI ini telah mengangkat wibawa pemerintah Indonesia di mata internasional sekaligus menarik simpati dunia. Ketika para pemimpin RI yang ditawan di Bangka melakukan perundingan dengan Belanda, para pemimpin PDRI merasa kecewa karena tidak ada pemberitaan. Dampaknya PDRI mencap bahwa seorang tawanan Belanda tidak pantas dan tidak berhak melakukan perundingan dengan Belanda. Persetujuan Roem-Royen yang dilaksanakan waktu itu dianggap bertentangan dengan semangat perjuangan bangsa Indonesia karena Belanda selalu ingkar janji. Bahkan mereka para pemimpin PDRI menolak kesepakatan Roem-Royen yang dianggap telah menghilangkan wibawa Indonesia. Pada tanggal 13 Juli 1949, diselenggarakan pertemuan antara para pemimpin RI yang ditawan di Bangka dengan pimpinan PDRI untuk menyamakan pandangan. Perundingan tersebut menghasilkan bahwa (1) PDRI menyerahkan kepada KNIP dan pimpinan TNI keputusan mengenai hasil perjanjian Roem-Royen karena PDRI tidak dilibatkan, (2) PDRI mengembalikan mandat kepada pimpinan RI secara resmi. Ketidakpuasan para pimpinan PDRI inilah yang kelak memunculkan apa yang disebut PRRI Permesta (Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia Perjuangan Rakyat Semesta) yang dipimpin oleh Syafruddin Prawiranegara.
8.Konferensi Roem-Royen
Perjanjian Roem-Royen Menawarkan Peluang bagi Pemimpin BFO (Byeenkomst Voor) Federal Overleg) atau forum Musyawarah Federal untuk lebih banyak gameplay Perannya di NIS, BFO, dan berusaha membantu RI dengan harapan mendapat bayaran Pemimpin Republik Indonesia berupa pemerintahan sendiri di lingkungan NIS. ini sedang dibahas Konferensi Antar Indonesia. Dari tanggal 30 Juli sampai 2 Agustus 1949, Konferensi Internasional Indonesia diadakan di Jakarta. Konferensi akan diadakan dari 19 hingga 22 Juli Jakarta.Konferensi Antar Indonesia ini dihadiri oleh para pemimpin RI dan BFO yang menghasilkan keputusan sebagai berikut :
BFO mendukung berdirinya NIS yang memiliki kedaulatan.
Dibentuk panitia persiapan nasional yang terdiri dari wakil-wakil RI dan BFO.
Negara-negara bagian tidak akan memilki tentara sendiri melainkan tergabung dalam NIS.
BFO mendukung tuntutan RI agar peneyerahan kedaulatan tanpa syarat baik politik maupun ekonomi.
RI setuju bahwa Undang-undang NIS disusun dalam KMB.
RI setuju BFO memperoleh dua pertiga perwakilan dalam parlemen. g. NIS memiliki senat yang anggotanya 30 dari wakil BFO dan 2 dari wakil RI. Kesepakatan-kesepakatan inilah yang memuluskan jalan terbentuknya NIS dalam KMB.
9. Konferensi Antar Indonesia
Peran PBB dalam perundingan Indonesia-Belanda sangat besar, terutama dalam Jadwalkan pertemuan antara Indonesia dan Belanda. Pertemuan ini juga mencakup: Negara anggota BFO terdiri dari Belanda. Pertemuan ini disebut Nama Meja Bundar (KMB) dari 23 Agustus hingga dan 2 November 1949. Dalam pertemuan ini, ada tiga partai politik yang dipimpin oleh Republik Indonesia Sultan Hamid II dan Van masing-masing diwakili oleh Hada, BFO dan Holland. Maarseveen dan UNCI, United Nations Commission on Indonesia sebagai fasilitator.
Adapun hasil pokok dari KMB adalah sebagai berikut :
a.KMB merekomendasikan terbentuknya Negara Indonesia Serikat.
b.Dibentuknya Uni RIS dengan Kerajaan Belanda.
c.Penyerahan kedaulatan oleh Belanda kepada RIS tanpa syarat.Perjanjian untuk memulihkan kedaulatan terdiri dari tiga perjanjian utama, yaitu: Piagam Transfer kedaulatan, status serikat pekerja dan persetujuan transfer. dalam piagam pemulihan Kedaulatan, dikatakan bahwa penyerahan kedaulatan akan 27 Desember 1949, paling lambat 30 Desember 1945. Adapun Republik Indonesia Amerika Serikat yang akan datang, Delegasi Republik Indonesia bersama-sama menyusun konstitusi dengan delegasi BFO. Rencana konstitusional tersebut disambut baik oleh kedua belah pihak pihak-pihak yang mengadakan kontrak, dan sejak 27 Desember 1949, UU Wajib. Kemudian undang-undang dasar ini diberi nama Undang-Undang Dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia Koalisi yang terdiri dari pembukaan dan 197 pasal. Terpilih sebagai Presiden RIS Soekarno dan Hatta diangkat menjadi perdana menteri. Pusat pemerintahan RIS adalah Jakarta. Sedangkan Republik Indonesia diserahkan kepada Asaat yang menjabat sebagai presiden dengan ibu kota Yogyakarta.
Wallahu A'lam Bi Showab
Referensi ; Sejarah Indonesia Masa Kemerdekaan_Dr.Aman, M.Pd.pdf
Penyusun Naskah: Yora Ahmad Alvaro dan Minhatin
Editor: Biro Literasi dan Intelektual
Post a Comment